Takdir Kemanusian Pulau Galang dari Kisah Tinh Nham Laoi hingga RS Khusus Virus Corona

TERDEPAN.CO.ID,BATAM- Pembangunan Rumah Sakit Khusus bagi penderita Virus Covid- 19 atau virus Corona yang ada di Pulau Galang sesuai dengan instruksi Presiden Joko Widodo, mengingatkan tentang sejarah kelam dan tragis seorang perempuan asal Negara Vietnam, Tinh Nham Laoi, yang mengungsi bersama-sama rombongan secara massal pada tahun  1975 hingga 1996,  tepatnya saat didirikannya kamp pengungsian Vietnam yang menyeberang menjadi manusia Perahu, akibat perang saudara di negaranya.

Dalam perjalanan mereka dirompak, diperkosa, dan dibunuh bajak laut di Laut Cina Selatan. Sebagian lainnya terombang-ambing karena badai, kehabisan bahan bakar dan karam begitu saja.

Bacaan Lainnya

Sementara mereka yang berhasil selamat pun menghabiskan waktu hingga beberapa bulan di laut lepas, dan tidak sedikit rekan mereka seperjalanan yang sakit dan meninggal dunia akibat kelaparan.

Akibatnya, setibanya di pulau Galang, Kepulauan Riau, banyak juga diantara mereka yang meninggal akibat wabah penyakit yang diderita pada saat perjalanan. Selain itu, tidak sedikit juga yang mengalami depresi kemudian mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri.

Camp tersebut memiliki luas 80 hektar dengan 250 ribu pengungsi di dalamnya. Perang saudara yang kejam membuat ratusan ribu orang harus mengungsi. Warga Vietnam yang datang ke Indonesia itu mulai tahun 1979 hingga 1997. Di pengungsian mereka ditangani  oleh UNHCR, lembaga dunia yang fokus dengan persoalan kemanusiaan.

Pulau Galang sendiri merupakan rangkaian pulau besar ketiga yang dihubungkan oleh enam buah jembatan Barelang.  jaraknya relatif dekat dengan pulau Batam, sehingga mudah untuk dijangkaunya dengan menggunakan jalan darat.

Menurut cerita salah satu sumber yang pernah melihat dan mendengar saat kejadian tersebut, Tinh Nham Laoi adalah sorang biduan cantik dinegara asalnya, yang menjadi primadona di kamp pengungsian tersebut harus merasakan pahit dan getirnya kehidupannya, hingga harus menemui ajal dengan cara bunuh diri, karena merasa malu hingga akhir kisahnya itu diabadikan dengan sebuah tugu kemanusian yang berada di eks Camp Vietnam di Pulau Galang, Batam, Kepulauan Riau.

Tinh Nham Laoi, harus mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri karena Ia depresi setelah diperkosa tujuh pria yang juga pengungsi.

Tugu tersebut bernama Humanity Statue. Dari penjelasan tertulis bahwa tugu atau patung itu didirikan oleh para pengungsi untuk mengingat musibah yang menimpa seorang wanita bernama Tinh Nhan yang diperkosa oleh sesama pengungsi di lokasi di mana patung itu berada kini. Tinh Nhan bunuh diri tidak lama sesudahnya.

Peninggalan dan petilasan sejarah yang penuh misteri ini masih terasa kuat aroma mistis hitam, yang kadang membuat bulu kuduk Kita harus berdiri, saat Kita melihat langsung serta merasakan aura aura yang terpancar dari berbagai benda peninggalan khususnya makam yang tertata dan bercat putih.

Ada 503 unik pemakaman di Ngha Trang Grave. Mereka yang dikuburkan di tempat ini rata-rata meninggal akibat depresi dan juga karena penyakit kelamin bernama Rose Vietnam.

Masyarakat mempercayai tempat ini sangatlah wingit dan berhantu, ada larangan yang mesti dipatuhi ketika berkunjung ke Pulau Galang. Selain tidak boleh berbicara latah dan sembarangan. Di Pulau itu tumbuh banyak pohon mengkudu. Dan menurut mitos ada semacam larangan untuk tidak mengambilnya ataupun memetiknya.

Pernah ada  kejadian orang yang tak mengerti larangan ini. Ia mengambil buah itu dan membawanya. Dan setiba dirumah, orang itu menjadi linglung.

Kisah tragis Tinh Nham Laoi adalah suatu suatu gambaran adanya tindak kejahatan. Masih banyak lagi tindakan criminal yang lainnya sehingga sebuah penjara masih bisa Kita jumpai sebagi bukti adanya kasus tindak pidana yang pernah ditangani.

Saat itu Personil Brimob dikirim dan diperbantukan untuk melakukan penjagaan terhadap masyarakat pengungsi kamp Vietnam, sekaligus memberikan pembinaan bagi yang melakukan tindak kejahatan, serta menahan pengungsi yang mencoba melarikan diri.

Di pengungsian korban perang saudara di Vietnam itu terdapat sekitar 250 ribu orang. Mereka datang dari Vietnam dengan menggunakan perahu hingga berbulan-bulan. Beberapa diantaranya meregang nyawa di laut lepas sebelum sampai di Pulau Batam.

Hal tersebut dibenarkan oleh seorang pria paruh baya Syafrudin Napitupulu (55) pegawai Ditpam BP Batam, yang mengaku sebagai penduduk setempat dan bekerja sebagai pengelola lokasi. Pria tersebut mengatakan, cerita tentang kamp Vietnam sangat Ia pahami benar, karena pernah berinteraksi dengan mereka saat bertugas.

Menurut sepengatuhannya pengungsi yang ada di Kamp Vietnam sangat membaur dengan masyarakat sekitar dan nampak ramah dengan kehidupan yang normal, bertani, berdagang dan belajar sebelum dikirim kenegara ketiga.

Namun dibalik kebaikan Mereka, juga masih ada dijumpai tindak Kriminal seperti mabuk-mabukan dan perkelahian bahkan sampai dalam tindak kejahatan pembunuhan.

Kini sejarah dan cerita tentang penghuni Kamp Vietnam hanyalah sebuah kenang-kenangan yang ditinggalkan melalui sebuah lukisan, foto , benda-benda yang pernah digunakan serta prasasti dan makam yang sekali-kali masih dikunjungi oleh keluarga maupun para penghuni Kamp Vietnam yang saat ini sudah sukses dinegaranya. Begitu pula masyarakat lokal yang menjadikannya sebagai obyek wisata.

Seiring perkembangan jaman dan kebutuhan. Kamp Vietnam masih ditakdirkan sebagai tempat kemanusiaan dengan dibangunnya Rumah Sakit Khusus penyakit Virus corona (Covid-19) sesuai dengan instruksi Presiden Joko Widodo, yang akan segera dibuka pada senin mendatang awal April 2020.

Gedung rumah sakit baru akan menggunakan lahan sekitar 7 hingga 8 hektare di kompleks bekas kamp Vietnam, untuk mengantisipasi adanya penyakit menular seperti virus corona, yang saat ini menyerang dunia dan salah satu alasan lain adalah munculnya kekhawatiran dari masyarakat setempat jika observasi terhadap orang terdampak dilakukan di dekat permukiman.

 

Redaksi

 

 

 

 

TERDEPAN TV

Pos terkait