TERDEPAN.CO.ID,JAKARTA-Pemerintah Indonesia bekerja sama dengan PT.Bio Farma akan segera menggelar uji klinis terhadap 2.400 Vaksin Covid-19 asal China, Sinovac, yang saat ini sudah masuk tahap tiga vaksin.
Memalui diskusi yang di gelar secara virtual, Bambang Heriyanto selaku Corporate Secretary PT Bio Farma mengatakan, pada awal bulan Agustus akan di lakukan uji klinis tahap ketiga jika tidak ada hambatan.
“Rencana kita awal Agustus kalau lancar itu sudah bisa dilakukan uji klinis tahap tiga,”kata Bambang dalam diskusi yang digelar secara virtual, Minggu (26/07/20).
Bambang menambahkan, Setibanya di Indonesia, vaksin itu harus lebih dulu dikarantina sehingga tidak bisa langsung digunakan.Sebanyak 2.400 vaksin diperuntukkan bagi 1.620 sukarelawan. Adapun satu vaksin Sinovac digunakan untuk satu orang.Sisanya, kata Bambang, sudah dialokasikan untuk keperluan uji klinis juga.
“Ini dosisnya dosis tunggal tinggal pakai. Vaksinnya sudah ada di dalam kemasan jarum suntik jadi tinggal disuntikkan ke sukarelawan,”tambahnya dia.
Pada diskusi yang sama, Pakar Epidemiologi Universitas Indonesia (UI) Pandu Riono menyebut bahwa vaksin Covid-19 Sinovac, belum tentu lulus uji klinis tahap tiga di Indonesia. Pandu bahkan sempat memperkirakan kemungkinan vaksin ini lulus uji klinis hanya sebesar 10 persen.
“Belum tentu yang Sinovac ini lulus dari (uji klinis) fase tiga. Kira-kira Saya dulu menganggapnya 10 persen (lulus uji klinis), tapi ada teman dari Australia bilang ternyata dari pengamatan database dunia kira-kira 30 persen yang lulus di fase tiga ini,” lanjut Dia.
Pandu mengatakan, meski sudah sampai di tahap tiga uji klinis, sebuah vaksin bisa saja gagal digunakan secara masif jika terbukti menimbulkan efek samping bagi penggunanya. Kasus tersebut pernah terjadi ketika Indonesia melakukan uji klinis vaksin demam berdarah dengue (DBD).
“Vaksin tersebut sudah lulus uji klinis tahap akhir, namun tak jadi diterapkan lantaran menimbulkan efek samping. Jadi keselamatan itu penting sekali, walaupun efektif, ada efek samping enggak jadi, batal, walaupun sudah mahal,”ucapnya.
Menurut Pandu, pengembangan vaksin memang membutuhkan waktu yang lama dan biaya tinggi.Sebelum sampai ke tahap tiga, uji klinis harus dipastikan lulus tahap satu dan tahap dua. Uji klinis tahap satu, yakni meneliti apakah vaksin dapat merangsang antibodi.
“Tahap dua, mencari tahu dosis yang efektif untuk meningkatkan antibodi. Ketiga, baru dilakukan uji klinis apakah vaksin tersebut efektif bagi penggunanya,”ujar Pandu.
Oleh karenanya, Pandu memastikan uji klinis tahap tiga vaksin bakal berjalan aman.
“Jadi kalau tidak lolos fase satu, fase dua enggak mungkin bisa lompat ke fase tiga walaupun dalam keadaan emergency sekalipun harus lewat fase satu fase dua. Karena itu sudah diyakinkan aman,” kata Pandu.(*)
Editor : Bagus Alfianto Rajib
#PT.BioFarma







