Cara Kerja Iron Dome Israel dan Harganya yang Fantastis

TERDEPAN.CO.ID,INTERNASIONAL– Sistem pertahanan udara Israel, Iron Dome menjadi perbincangan publik karena sistem pertahanan berbasis darat ini mampu mengintervensi roket dan artileri yang ditembakkan Hamas Palestina.

Dalam sepekan terakhir, Palestina sudah menembakkan setidaknya 2.800 roket ke Israel dengan total korban di pihak Israel mencapai 10 orang.

Bacaan Lainnya

Lantas, bagaimana cara kerja Iron Dome?

Iron Dome merupakan sistem pertahanan anti rudal, yang mencegat rudal yang memasuki wilayah Israel dengan menembakkan rudal. Sistem ini juga menggunakan teknologi radar.

Cara kerjanya, radar akan mendeteksi objek seperti rudal yang masuk wilayah udara Israel. Informasi ini kemudian diproses. Kemudian nantinya akan diketahui informasi tentang kecepatan, dan lintasan jalur terbang objek itu.

Setelahnya rudal pangkalan akan dikirim untuk mencegat roket tersebut dengan meledakkan muatannya di dekat objek sehingga roket hancur di udara. Dalam peluncuran rudal pangkalan ini diperhatikan variabel lain seperti atmosfer dan pola cuaca

Mengutip Middle East Eye, Rabu (19/5/2021), Iron Dome mirip dengan sistem anti-rudal milik Amerika Serikat bernama Patriot dan S-400 milik Rusia. Perbedaannya terletak pada jangkauan dan jenis objek yang bisa dihancurkan.

Iron Dome disebut hanya mampu mendeteksi objek asing yang mengancam sejauh 4-70 kilometer (km). Sementara S-400 milik Rusia bisa menjangkau hingga 400 km. Sebab itulah Iron Dome dikhususkan untuk mencegat ancaman jarak dekat di darat dan laut.

Israel sendiri mengklaim keberhasilan Iron Dome dalam mencegat roket mencapai 90%. Namun ilmuwan MIT Theodore Postol ragu dengan itu. Ia memprediksi keberhasilan sebenarnya Iron Dome hanya 5%. Menurutnya rudal milik Iron Dome memang mampu memengaruhi objek yang masuk tetapi tidak menghancurkan muatan yang dibawanya.

Lantas, apa risiko Iron Dome?

Pada April 2021, mantan tentara Israel meluncurkan gugatan class action terhadap Kementerian Pertahanan Israel yang mengklaim bahwa mereka menderita kanker karena waktu yang dihabiskan untuk mengoperasikan Iron Dome.

Iron Dome dijuluki sistem “pemanggang roti” dan membandingkan paparan radar sistem dengan paparan radiasi yang ditemukan di dalam microwave. Israel menolak hubungan antara penyakit kanker dengan sistem itu.

“Ketika Anda berada di dekat radar, Anda benar-benar merasakan tubuh mendidik dari dalam ke luar … jika Anda mencoba membayangkan apa yang terjadi pada makanan ketika berada di microwave, itu seperti itu,” ujar Johanthan Maimovich, mantan operator Iron Dome.

Mahalnya Iron Dome Meski begitu, Israel juga harus mengeluarkan biaya tak sedikit untuk membangun dan mengoperasikan radar dan rudal pencegat Iron Dome. Dikutip dari DW, satu rudal pencegat dilaporkan memiliki harga 80.000 dollar AS atau sekitar Rp 1,14 miliar (kurs Rp 14.300).

Bahkan beberapa sumber lain melaporkan, harga rudal pencegat Iron Dome mencapai 150.000 dollar AS atau sekitar Rp 2,15 miliar per buah. Saking mahalnya harga satu rudal tersebut, memaksa Israel juga harus berhemat. Caranya, mereka hanya akan meluncurkan rudal pencegat untuk setiap roket Hamas yang dianggap bisa mengarah ke area penduduk atau infrastruktur penting.

Kelemahan Iron Dome

Namun begitu, sistem pertahanan canggih ini juga tak luput dari kekurangan. Hamas juga tampaknya sudah mempelajari cara kerja Iron Dome, di mana mereka mulai menembakan roket secara salvo beruntun dan bersamaan untuk menguji batas maksimal pertahanan Iron Dome. Iron Dome diduga memiliki titik jenuh.

Sistem ini dinilai efektif mencegat serangan, tetapi tidak mampu menahan rentetan roket yang bertubi-tubi dalam satu waktu. Serangan simultan terbukti bisa menembus sistem dan menimbulkan kerusakan.

Bahkan, tak jarang Hamas juga meluncurkan roket palsu untuk mengecoh Iron Dome. Roket-roket pengalih Iron Dome itu dibuat dengan harga murah dari bahan-bahan logam seadanya.

Sementara itu dikutip dari Missile Threat, selain harga rudalnya yang juga sangat mahal, proyek infrastruktur Iron Dome memakan biaya sangat besar. Iron Dome mulai dikembangkan sejak tahun 2007 atau setelah wilayah negara itu dihujani roket dari Hizbullah saat berkonflik dengan milisi asal Lebanon itu. Proyek pengembangan Iron Dome dilakukan oleh perusahaan senjata yang berbasis di Haifa, Rafael Advance Defence System. Sekutu Israel, Amerika Serikat, ikut patungan dengan menyumbang dana sekitar 200 juta dollar AS.

Iron Dome terdiri dari tiga elemen fundamental, yaitu radar pendeteksi dan pelacakan, manajemen pertempuran dan sistem kendali senjata (BMC), dan unit penembakan rudal (MFU). Sistem radar telah dikembangkan oleh perusahaan pertahanan Israel, Elta.

Setelah mendeteksi dan mengidentifikasi roket tersebut, radar Iron Dome memantau jalurnya. Berdasarkan informasi radar, BMC sistem menganalisis jalur ancaman dan menghitung titik dampak yang akan diantisipasi.

Tumpukan besar puing tetap berada di kompleks polisi Gaza pada hari Sabtu di mana beberapa bangunan telah diratakan oleh serangan udara Israel selama perang 11 hari baru-baru ini.

Kepala polisi Gaza Mahmoud Salah mengatakan bahwa enam kantor telah diserang, termasuk tim penjinak bom dan departemen bukti forensik. Setidaknya empat petugas polisi tewas.

#IronDome

#Palestine

#Isrel

#Gaza

TERDEPAN TV

Pos terkait