Nunggak SPP Anak Sopir Taxi Bandara Dipaksa Menandatangani Surat Perjanjian

Rifai Hidayat orang tua murid yang mengeluhkan biaya SPP Anaknya nunggak (Baju Hijau)

TERDEPAN.CO.ID,BATAM- Dimasa  Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 4 yang saat ini turun menjadi level 3 di Kepri masih banyak orang tua murid yang tak mampu membayar biaya sekolah seperti SPP dan lain sebaginya. Hal ini dikeluhkan salah satu orang tua murid atas nama Rifai Hidayat yang anaknya belajar di SMK 5 Dapur 12 Batu Aji Batam, Kamis (12/08/21).

Ia sebagai seorang sopir taxi Bandara Hang Nadim, Kepri mengaku dipaksa untuk membuat dan menandatangani surat perjanjian pembayaran atas keterlambatan pembayaran sekolah anaknya dimasa PPKM Darurat yang saat ini berpengaruh terhadap pendapatan ekonomi yang menurun drastis.

Bacaan Lainnya

“Saya pribadi sangat mengeluhkan terkait pembayaran biaya sekolah anak saya di  SMK5 Dapur 12 Batu Aji, masak uang sekolah gak terbayar disuruh bikin surat perjanjian segala, gak melihat realita dilapangan kalau ekonomi sedang sangat sulit, mata pencarian saya hanya sebagai sopir taksi saja, dimana hati nuraninya,”rintihnya, Rabu (11/08/21).

Ia juga mengeluhkan pendapatan sangat tidak mencukupi untuk kehidupan sehari-harinya karena sepinya penumpang di Bandara Hang Nadim Batam.

Ia berharap kepada Kepala Sekolah SMK5 untuk mengerti dan memahami situasi dan kondisi keungan dan perekonomian anak didiknya dan memberikan kelonggaran agar tidak membuat mental dan semangat anaknya menjadi malu dan tak mau belajar lagi.

“Kepala SMK5, tolong anak saya *(TH), jangan dikit-dikit bikin surat perjanjian karena sudah 2 bulan tidak bayar iuran, jurusan mesin, kami sedang kesulitan dimasa PPKM Darurat ini, untuk bayar listrik aja sudah nunggak, “pintanya memelas.

Ia berharap, anaknya diberi kelonggaran agar anaknya tetap semangat belajar menimba ilmu di sekolah mengejar cita-citanya.

“Harapan saya untuk anak dulu, jangan saya dibebankan, kenak mentalnya, tolong lihat dibawah, bagaimana kami yang ada dilapangan, sangat susah yang kami rasakan,”serunya.

“Kalau pendapatan sehari-harinya untuk antrian satu kali, 4 hari kami menunggu paling kecilnya 100 ribu dan uang ini yang kami bawa pulang, sementara untuk membeli minyak mobil taxi ke bandara pulang pergi udah 30 ribu,  apalagi mobil kontrak! gimana untuk setoran, untung  bos saya mau mengerti ,setoran berapa, dapatnya berapa aja,”keluhnya.

Dirinya berharap kepada Dinas Pendidikan Kota Batam dan Walikota Batam untuk ikut membantunya dan mau mendengar keluhan dan jeritan masyarakatnya yang sedang mengalami kesulitan ekonomi khususnya dibidang pendidikan agar anak-anaknya tidak ada tekanan dari pihak sekolah hanya gara-gara tidak bisa membayar iuran biaya sekolah.

“Saya harapkan kepada pak Rudi  dan Dinas Pendidikan Kota Batam mau mendengar keluhannya agar anaknya bisa belajar dengan tenang disaat ekonomi sedang sulit, tolonglah Kami pak, sementara ini saya betul-betul angkat tangan, saya angkat bendera merah putih, saya udah menyerah sekali, tolong anak saya dulu,”pintanya.

Hingga saat ini Tim TERDEPAN belum bisa mengkonfirmasi pihak sekolah SMK5 dan hingga berita ini diunggah belum ada tanggapan dari pihak terkait.

Pantauan dilapangan, pada PPKM Level 4 dan 3 banyak sopir taxi yang sepi job dan mengantri, untuk mengangkut penumpang yang hanya nampak sesekali saja.

 

Redaksi

#BandaraHangnadimBatam #TAXI

 

 

 

 

TERDEPAN TV

Pos terkait