TERDEPAN.CO.ID, Batam – Dalam masa tiga bulan terakhir, di mana mulai meredanya pandemi Covid-19 disertai melonggarnya aturan-aturan pemerintah terkait keluar masuknya wisatawan, dunia perhotelan di Batam Kepulauan Riau tampak mulai kembali bergairah. Beberapa hotel di kawasan Nagoya pun mulai tampak ramai atau beroperasi kembali.
Di Beverly Hotel yang terletak di Jl Raden Patah kawasan Nagoya misalnya, aktivitas keluar masuknya tamu tampak mulai ramai kembali. Menurut General Manager (GM) Beverly Hotel Yeyen, pihaknya telah melakukan berbagai upaya untuk dapat bertahan dari terpaan keterpurukan akibat pandemi Covid-19.
“Kita beryukur kondisi pandemi saat ini sudah mereda. Sejak dua bulan lalu, okupansi kami mulai mencapai 20 persen,” ungkapnya, Kamis (21/4/2022).

Yeyen juga mengungkapkan, Dari 157 kamar yang tersedia di Beverly Hotel, rata-rata bisa mencapai 30 kamar yang terisi. Tamu sebagian besar masih terdiri dari tamu lokal atau domestik. Namun selama bulan Ramadhan jumlah tamu mengalami penurunan.
“Karena suasana masih puasa jumlah tamu menurun. Tamu lebih banyak dari pemerintahan. Mereka dalam rangka perjalanann dinas dari pemerintah Provinsi Kepri, Jakarta dan Riau,” ungkapnya.
Dengan longgarnya aturan pembatasan mobilitas, tamu lokal maupun dari manca Negara, bahkan ada yang sudah membawa keluarga untuk menginap di Beverly Hotel. Namun mereka bukan wisatawan, rata-rata tamu yang menginap dalam rangka pekerjaan di Batam, lanjut Yeyen.
“ Ada juga tamu family. Ada tamu dari Malaysia sudah datang dari beberapa bulan yang lalu karena alasan bekerja di Batam. Kalau tamu dari Singapura hari ini baru 5 sampai 6 orang yang datang,” tuturnya.
Selain soal tamu Yeyen menambahkan, selama bulan Ramadhan ini, Beverly Hotel juga melayani paket berbuka puasa. Setiap hari beberapa instansi pemerintah maupun swasta melakukan reservasi untuk kegiatan buka bersama.
“Untuk acara berbuka puasa bersama, full selama bulan Ramadhan dibuka. Banyak instansi yang sudah pesan,” ungkapnya.
Terkait minat wisatawan manca Negara untuk berkunjung, Yeyen memperkirakan biaya antigen dan tiket kapal ferry yang masih mahal menjadi alasannya enggan untuk berkunjung. Selain itu, semua tamu dari negara luar yang akan berkunjung ke Batam, harus lebih dulu berada di Singapura selama 14 hari.
“Biaya antigen di negara Singapura mencapai 120 dolar Singapura, kalau mau cepat mencapai 300 dolar. Sedangkan Tiket kapal ferry Singapura ke Batam mencapai 98 dolar, padahal sebelum pandemi hanya 55 dolar,” tutur Yeyen. (Ika)
Editor : Andri Sofian







