Kader Prajurit Demokrat Nusantara Kecam Sikap dan Pernyataan Ketua DPC Partai Demokrat Kota Batam

Potongan pernyataan Ketua DPC Demokrat Kota Batam, M. Al Ichsan, di salah satu media online. (Foto: Redaksi, 12/9/2022)

TERDEPAN.CO.ID, BATAM | Pernyataan Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Demokrat Kota Batam, Muhammad Al Ichsan, di sebuah media online menuai kecaman dari tokoh sentral Prajurit Demokrat Nusantara Kota Batam, Aksa Hallatu. Dalam pernyataannya, Al Ichsan mengatakan, “Yang keluar bukan orang lama di partai. Jadi bukan suatu kendala.”

Selain itu, Aksa Hallatu juga mengecam sikap dan tindakan Al Ichsan yang dia nilai tidak mengakomodir kader-kader lama partai. Dia menegaskan bahwa, jika alasannya hanya karena tidak diakomodir, itu tidak akan menjadikan para kader lama berniat keluar dari Partai Demokrat.

Bacaan Lainnya

“Tapi kalau persoalan yang keluar dianggap orang-orang lama yang tidak terakomodir, saya yakin tidak ada kader Partai Demokrat yang keluar. Dan yang sangat saya sayangkan pernyataan Ichsan semalam. Bahwasannya dia bilang soal sejumlah pengurus yang keluar dari Partai Demokrat, Ichsan merasa biasa saja dan bukan menganggap sebagai kendala,” beber Aksa.

Menurutnya, sejak tahun 2003 sampai sekarang ini, Aksa menyebut kalau dirinya bersama para kader lama ikut membesarkan partai Demokrat. Pada Pemilu 2004, Partai Demokrat meraih 4 kursi di DPRD Kota Batam. Selanjutnya pada 2009 berhasil meraih 7 kursi, namun pada Pemilu 2014 turun menjadi 5 kursi. Hingga terakhir pada 2019 Partai Demokrat hanya meraih 3 kursi di DPRD Kota Batam.

Aksa Hallatu, Kader Prajurit Demokrat Nusantara menyampaikan kritikannya terhadap Ketua DPC Partai Demokrat Kota Batam melalui awak media. (Foto: Redaksi, 12/9/2022)

“Kawan-kawan yang ada di Partai Demokrat sebagai pejuang itu bekerja. Jadi dia harus betul-betul bisa merangkul kawan-kawan ini. Dia jangan egois, jangan angkuh, jangan sombong. Ichsan itu harus tau, latar belakang dia bukan pelaku politik. Dia (Al Ichsan) jangan mimpi, bahwasannya di 2024 di setiap dapil dia bisa menaikkan 3 kursi menjadi 6 kursi,” ketusnya.

Aksa pun mempertanyakan adanya 850 orang yang sudah bikin Kartu Tanda Anggota (KTA) Partai Demokrat. Dikatakannya apakah 850 orang itu bisa dihadirkan sebagai orang yang betul-betul mencintai dan akan memilih Partai Demokrat. Dia meragukan dari mana KTP sebanyak itu diambil untuk membuat KTA.

Diakui Aksa bahwasannya di dalam politik ada dinamika dan ada perbedaan. Namun demikian untuk menjadi pemimpin itu tidak boleh sombong. Orang-orang lama itu mestinya dirangkul. Menurutnya pemimpin partai harus watak dan tidak bisa berprilaku layaknya bos perusahaan. Pemimpin Partai itu adalah ‘babu’ yang memberikan pelayanan ke publik dan tentunya pelayanan kepada anggotanya agar merasa nyaman, hingga akhirnya benar-benar bisa bekerja untuk membesarkan partai.

“Ichsan harus merangkul mereka. Dia gak perlu merangkul saya, saya gak perlu dirangkul dia. Saya pun tidak akan mau lagi sejalan dengan dia. Cukuplah perjalanan saya sampai mengantarkan dia menjadi Ketua DPD,” tuturnya.

Dia menilai bagaimana mungkin akan men-Demokrat-kan orang di luar sana, sementara saudara sendiri yang telah berjuang di dalam partai dijauhkan. Sebagai senior, Aksa berpesan agar pemimpin harus selalu koreksi diri. Dan jangan terlalu gampang berjanji, karena imbasnya berbahaya bagi Partai Demokrat. Dia tak ingin permasalahan yang terjadi saat ini mempengaruhi kemenangan Demokrat di Batam pada Pemilu 2024.

“Kalau ingin melihat 2024 sama-sama mengantarkan Ketua Umum kita untuk menjadi calon presiden atau wakil presiden. Tentunya juga bagaimana ingin meraih suara dari keterpurukan 2009. Tiga kursi itu adalah bagian dari keterpurukan. Bagaimana mengangkat dan kembali mengisi DPRD itu menjadi 5 kursi, setidaknya satu fraksi lah,” pungkasnya. (Red)

Editor: Andri Sofian

#dpcpartaidemokratbatam
#prajuritdemokratnusantara

TERDEPAN TV

Pos terkait