TERDEPAN.CO.ID, BATAM | Puluhan warga bersama perangkat RT dan RW dari 4 Perumahan di Kelurahan Tanjung Uncang, Kecamatan Batu Aji, Kota Batam, Kepulauan Riau, mendatangi Kantor PT Air Batam Hilir (ABH) di Jalan Engku Puteri, Batam Center, Selasa (1/11/2022).
Mereka menuntut pihak pengelola air agar segera mengalirkan air ke wilayahnya karena sudah 2 minggu tidak mengalir total. PT Air Batam Hilir merupakan perusahaan patungan konsorsium PT Moya Indonesia dan PT PP (Persero) yang telah ditunjuk oleh BP Batam menjadi perusahaan pengelola air bersih Batam.

Saat 10 orang perwakilan warga diterima oleh Corporate Communication PT Air Batam Hilir, Ginda Alamsyah, mereka mendesak agar air segera dialirkan hari ini juga. Ketua RW 15 Tanjung Uncang, Azwar Sukendi, menuturkan bahwa kondisi air hanya mengalir di malam hari sudah berlangsung lebih dari 10 tahun sejak PT ATB yang mengelola. Namun dalam 2 minggu terakhir, air mati total.
“Sudah 10 tahun air bersihnya ngalir saat malam saja. Hidupnya dari jam 12 malam sampai jam 4 pagi itupun tak merata. Lebih sering alirannya kecil. Tapi 2 minggu terakhir tidak mengalir sama sekali. Mati total 24 jam,” ujarnya.
Menaggapi keterangan itu, Ginda mencoba memberikan penjelasan tentang kendala yang dihadapi perusahaan dengan menyampaikan soal keterbatasan kemampuan suplai. Namun semua penjelasan itu segera dihentikan warga yang mendengarnya, sebab hal itu sejak dulu sudah selalu disampaikan untuk menjadi alasan. Sementara menurut Azwar Sukendi, solusinya tak pernah ada sama sekali.
Azwar serta perwakilan lainnya juga menceritakan bahwa untuk memenuhi kebutuhan air setiap harinya, ada juga warga yang mengorder air yang dibawa oleh mobil water tank kepada PT ABH, namun hanya sesekali saja bisa datang. Sementara di Perumahan Putra Jaya saja memiliki 9 RT dan 2 RW, yakni RW 22 dan RW 15. Untuk RW 15 saja warganya sebanyak 2.000 KK lebih, belum lagi RW 8 diperkirakan warganya sebanyak 2.500-an KK.

“Berarti kurang lebih ada 4000-an KK yang terdampak. Bagi yang mampu beli air minum galon isi ulang Rp5 ribu per galonnya. Bisa 5 galon sampai 10 galon perhari, manalah mampu,” ungkapnya.
Satu hal lagi yang diungkapkan dan yang menjadi kecurigaan sebagian besar warga adalah adanya pengaturan valve setiap hari dengan mengutamakan kawasan industri. Pasalnya, beberapa perusahaan besar di sekitar pemukiman itu air selalu mengalir dengan baik.
Namun pihak PT ABH membantah adanya pelayanan yang berbeda antara masyarakat dengan perusahaan. Ginda juga membantah adanya karyawan yang ditugaskan untuk melakukan kontrol valve.
“Kami memahami dan merasakan apa yang dialami warga. Jadi tak mungkin kami melakukan hal itu. Kalau mengalirnya kecil, itu kendalanya seperti yang dijelaskan tadi,” sanggahnya.
Pada pertemuan itu, Ginda menawarkan solusi jangka pendek dan jangka panjang kepada warga. Untuk solusi jangka pendeknya, PT ABH akan mendistribusikan air kepada warga menggunakan dengan mobil tangki. Sedangkan solusi jangka panjangnya BP Batam akan membangun WTP (Water Treatment Plant) khusus untuk wilayah Tanjung Uncang dengan 350 liter perdetik.
Namun demikian, warga juga meminta agar pihak PT ABH turun malam ini melakukan pengecekan valve bersama-sama. Agar kecurigaan terkait adanya pengaturan berkala pada beberapa titik valve bisa dibuktikan benar tidaknya.
Terakhir, warga juga mengingatkan apabila PT ABH tak menyanggupi untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi warga, maka mereka akan melanjutkan dengan aksi unjuk rasa dengan jumlah massa yang lebih besar. (AS)
Editor: Andri Sofian
#tanjunguncang #ptabhbatam #bpbatam #airbersih







