Warga Geruduk PT Saipem Debu Tebal Sanblasting Bikin Sesak Nafas

Warga datangi PT Saipem

TERDEPAN.CO.ID, KARIMUN – Seperti tak berujung, dampak buruk debu pasir silika akibat aktivitas Sanblasting yang dilakukan PT Saipem Indonesia Karimun Yard terus menghantui warga Tanjung Ambat Desa Pangke Barat, Kecamatan Meral Barat, Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau.

Debu yang menyelimuti pemukiman warga di sekitar PT. Saipem itu mengakibatkan kenyamanan pernafasan warga terganggu.

Bacaan Lainnya

Pagi dini hari Selasa (14/5/2024) sekira jam 01.30 wib warga tiba-tiba terbangun karena pernafasannya terganggu akibat debu tebal yang menyelimuti pemukiman hingga masuk kedalam rumah dan kamar tidur.

Kejadian tersebut diungkap Indra salah seorang warga Tanjung Ambat yang terbangun akibat kondisi buruk itu. Saat terbangun dirinya langsung mencari penerangan dan memeriksa keadaan.

“Pagi dini hari terbangun karena pernafasan sesak, saya ambil senter dan periksa keadaan. Ternyata rumah sampai dalam kamar penuh debu,” ungkap Indra.

Setelah melihat keadaan, indra menghubungi warga lainnya yang kebetulan mengalami keadaan serupa dan bersama-sama menggunakan tangga melalui bagian atas pagar memberitahukan kepada pihak keamanan PT Saipem agar menghentikan aktifitas Sanblasting yang sedang berlangsung.

“Saat kejadian saya langsung menghubungi warga lainnya yang kebetulan mengalami keadaan serupa terus lewat pagar minta Sanblasting dihentikan dulu karena debu terlalu tebal, tapi mereka tak menghiraukan” kata indra

Setelah tak dihiraukan, sekira pukul 3.00 wib dini hari warga beramai-ramai mendatangi gate satu gerbang utama perusahaan meminta agar perusahaan segera menghentikan aktifitas Sanblasting yang merupakan sumber munculnya debu berbahaya.

Tak main-main, warga mendatangi gerbang utama perusahaan dengan membawa rantai kapal. Warga mengancam mengunci gerbang utama perusahaan bila tak segera dihentikan aktifitas Sanblasting.

Ketua Forum Peduli Kesejahteraan Lingkungan (FPKL) Sahar jemahat yang turut hadir dalam aksi tersebut mengatakan, PT Saipem selalu mengabaikan kesehatan lingkungan dengan tetap melakukan aktivitas Sanblasting meski debu masuk ke pemukiman.

“Seharusnya Saipem peka. Sudah tau debu mengarah ke pemukiman tetapi tetap lakukan kegiatan Sanblasting. Sudah warga terbangun dan marah baru mau diperhatikan, itupun harus pakai berdebat dulu” imbuh Sahar kesal

Selain itu Sahar juga menyayangkan mengenai nomor pengaduan yang diberikan ternyata nomor tak jelas, pasalnya pada saat kondisi buruk terjadi, saat dihubungi nomor tersebut tidak ada yang merespon.

“Kemarin diberikan nomor pengaduan kalau ada gangguan, tapi pada saat dihubungi pas kejadian ternyata tak ada yang merespon” ungkap Sahar

Pas warga ramai-ramai mendatangi gerbang utama, mereka sibuk ngajak duduk membicarakan namun kami tolak karena Itu semua omong kosong, kebiasaan perusahaan mau bohongi warga aja” tambahnya

Sementara pihak keamanan saipem yang menemui warga hanya bisa berusaha menenangkan warga agar tidak mengunci gerbang perusahaan. Sedangkan seorang bule yang datang menemui warga pun tak bisa memberikan solusi sembari mengatakan akan membawa aspirasi warga ke dalam mitting bersama pimpinan perusahaan.

Namun begitu, akhirnya aktifitas Sanblasting yang meresahkan masyarakat akhirnya dihentikan setelah perdebatan panjang terjadi. (Fajar)

 

#PTSaipem
#SanblastingPTSaipem

TERDEPAN TV

Pos terkait