
TERDEPAN.CO.ID,BATAM- Muhammad Riza Fahlevi yang mengaku menjabat sebagai Manejer Strategi Komunikasi dan Informasi Media ternama dan tertua di Batam membuat gaduh jagat Net, karena telah menyebar ujian kebencian terhadap media online ( media siber) yang ia juluki media daring dengan mempropokasi masyarakat untuk meninggalkan media online yang dianggapnya tidak berkualitas dan brengsek.

Ujaran kebencian tersebut ia tuangkan dalam tulisan dengan judul “Insinuasi, Fitnah di Balik Tanda Tanya” yang menuturkan bahwa untuk membikin media online hanya bermodalkan uang 100.000 saja yang membuat seseorang punya kekuasaan, jabatan dan bisa digunakan untuk memeras pejabat.
“Warga Batam harus cerdas memilih media, khususnya media online, mengingat saat ini sangat gampang membuat media daring ini. Hanya modal Rp100 ribu, sudah jadi. Anda bisa jadi wartawan, redaktur, pemimpin redaksi bahkan general manajer. Lalu bagaimana kualitas beritanya? Ini yang jadi masalah, ‘tulis Riza.

Selain itu dalam percakapan yang sudah di screenshoot melalui laman facebook pribadi Riza juga menyampaikan bentuk ancaman akan menyebar artikel unggahannya, kesekolah-sekolah bahkan sampai ke pulau terluar.
“ Untuk media online yang brengsek, Saya akan sosialisasikan tulisan Saya ini kemana-mana dan Saya akan lawan kalian, “ lanjutnya menanggapi perbincangan rekannya dilaman facebook tersebut.
Menurutnya, mudahnya membikin media online serta untuk memenuhi kuota berita, media daring bisa menjadi media curator, dengan membuat salinan berita sesuai dengan kehendak.
“ Karena dituntut harus memenuhi kuota berita, maka adakalanya media daring ini menjadi media curator, berita comot sana sini, lalu diframing lagi kembali sesuai keinginannya, apapun ini masih dirasa sesuai jalur. Namun yang disayangkan, fenomena menjamurnya media online ini banyak yang dipakai untuk memeras. “ tuduhnya.
Tak tanggung Riza juga menuduh media online bekerja dengan modus mendatangi pejabat atau pengusaha agar pasang iklan untuk membiayai operasionalnya. Bila menolak, sengaja dicari-cari kesalahannya, lalu dimuat di media tersebut dengan framing negative.
“Orang salah itu wajar, yang gak wajar adalah yang suka cari-cari kesalahan. Sebab, sudah busuk sejak dalam pikiran. Namanya juga mencari cari kesalahan, jangan harap beritanya jernih. Ciri berita semacam ini gampang dikenali. Biasanya isinya tak jauh dari mengarang bebas dan tendensi negatif. Lagaknya banyak mengumbar kalimat Tanya, “tulisnya seakan menghakimi.
Ia mengatakan, media online cara mengemas berita sangatlah jahat dan bisa menurunkan kepercayaan masyarakat pada media daring.
“ macam ini bukan saja jahat, namun bisa menurunkan kepercayaan masyarakat pada media daring. Sehingga jangan heran, survei terbaru, surat kabar tetap menjadi pilihan utama masyarakat dalam mencari kebenaran sebuah berita, “lanjutnya.
Dalam pesannya mengajak masyarakat untuk meninggalkan media daring karena merusak.
“Semoga tulisan ini bisa menggugah kesadaran masyarakat untuk bisa membedakan mana media hoax dan fitnah, serta mana media yang benar benar memberitakan kebenaran.Saran saya, tinggalkan media daring yang kualitasnya semacam itu. Merusak, “ bebernya dengan nada penuh kebencian.
Riza saat di konfirmasi melalui telepon mengakui menulis artikel ini penuh kesadaran dan cinta buta terhadap dunia jurnalistik dan karena adanya keluhan berbagai kalangan pejabat dan pengusaha.
“ Saya memang Cinta Buta terhadap dunia jurnalistik, Saya prihatin terhadap media online yang hanya mencari kesalahan dan memanfaatkan untuk hal-hal yang tidak baik, banyak pejabat dan pengusaha yang sharing ke Saya terhadap sikap mereka dan Saya mohon maaf Saya khilaf tidak menulis kata oknum media online sehingga banyak yang tersinggung atas artikel Saya, tapi tujuan Saya sebenarnya baik, “ pungkas Riza untuk mengajak berdamai dan tidak melapor ke Polisi, “ kata Riza, Rabu (06/02/19).
Diketahui Muhammad Riza Fahlevi pernah menjadi Pimpinan Redaksi di media yang tidak Ia sebutkan dan pernah belajar ilmu jurnalistik selama 18 tahun dan saat ini bekerja di Media cetak ternama dan tertua di Batam sebagai Manejer Strategi Komunikasi dan Informasi.
Redaksi







