Dampak Corona Terpaksa Tunda Produksi Dua Film Horor Indonesia

TERDEPAN.CO.ID,JAKARTA- Mewabahnya virus Corona sangat luas hal ini membuat industri film diperkirakan akan menderita kerugian besar karena calon penonton lebih banyak tinggal dirumah dibandingkan pergi ke bioskop. Diketahui, virus Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) ini telah menyebar ke 119 negara, dengan jumlah orang terdampak telah lebih dari 119.000 kasus.

Selain itu, negara yang sangat terdampak yaitu Italia dengan jumlah kasus lebih dari 10.000, Iran dengan jumlah kasus lebih dari 8.000 dan Korea Selatan dengan jumlah kasus lebih dari 7.700 dan Indonesia lebih dari 1000 kasus.

Bacaan Lainnya

Salah satu Sutradara Cakrawala Film D. Roy Wijaya kepada Terdepan.co.id mengatakan, pengaruh ini sangat terbesar pada industri perfilman di Indonesia.

Pendapatnya, saat ini film-film di Indonesia secara kualitas dan ketersediannya sudah sangat memadai,apalagi kontribusi film-film lokal juga meningkat.

Tetapi riskan, Wabah virus Corona, kembali melunturkan semangat para Cineas lokal,” ucap Roy Minggu (29/3/2020).

Roy mengatakan, saat virus Corona mewabah luas, setidaknya ada tujuh film Hollywood yang ditunda perilisannya, diantaranya adalah A Quite Place Part II, Mulan, The New Mutants, F9, Peter Rabbit 2: The Runaway, dan Black Widow.

“Untuk film Indonesia sampai saat ini ada dua film yang ditunda rilis sampai waktu belum ditentukan, yakni KKN Desa Penari dan Tersanjung The Movie yang sedianya sama-sama tayang pada 19 Maret 2020, terpkasa harus di tunda,” terangnya.

Berbagaimacam persiapan yang sudah matang dilakukan Rumah Produksi Cakrawala Film untuk dua Film Horor yaitu Terror Leak dan Topeng Kramat terpaksa di tunda, sampai batas waktu yang tidak ditentukan dan disesuaikan dengan ijin pemerintah.

Kata Roy, Corona yang sudah berlangsung hampir 2 bulan di sepanjang tahun 2020 ini, diproyeksi sudah menjadi  bencana finansial terbesar di industri sinematik.

“Ini adalah bencana sistematik terbesar bagi industri sinema, babak belur secara finansial dalam jangka pendek,” ungkapnya.

Kondisi yang dialami, kata Roy, bisa jadi sejarah tersendiri bagi industri perfilman Indonesia, karena tidak ada pembanding momen sebelumnya. Apalagi, sampai saat ini tidak bisa dipastikan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menahan penyebaran virus.

“Begitu wabah telah berhenti, akan butuh waktu lebih lama untuk membujuk orang kembali ke kebiasaan mereka yang lama. Termasuk nonton bioskop,” ungkap dia.

Roy menilai, hasil box office akhir pekan ini sudah mulai menunjukkan tanda-tanda apa yang akan terjadi di masa depan. Jelas, konsekuensi keuangan ini kemungkinan akan dirasakan oleh studio, pembuat film seperti Cakrawala Film dan pemilik teater selama bertahun-tahun yang akan datang.

Padahal, pada tahun 2018 sebelumnya, penerimaan box office mencapai rekor tertinggi sepanjang masa sebesar US$ 11,9 miliar di Amerika.

Bahkan sebelum virus corona, analis memperkirakan penjualan tiket pada tahun 2020 akan lebih rendah dari 2019. Sementara ini, penjualan box office Amerika Utara masih naik 3,7 persen dari tahun lalu, dari 1 Januari hingga 1 Maret, menurut data Comscore.

Namun, perkiraan terbaru dari analis Wedbush Michael Pachter memproyeksikan penjualan tiket tahun ini akan turun 2,6 persen menjadi US$ 11,1 miliar.

Ketika Roy Wijaya menulis catatan itu, ada lebih dari 100 kasus COVID-19 yang dikonfirmasi dan Pada hari Minggu, jumlahnya telah meningkat menjadi lebih dari 1000 lebih kasus di Indonesia.

 

Penulis :Ardi

Editor : IKA

#CakrawalaFilm

TERDEPAN TV

Pos terkait