TERDEPAN.CO.ID, KARIMUN | Warga RT 02 RW 03 dan RT 01, RW 4 Desa Pangke Barat, Kecamatan Meral Barat, Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau mengeluhkan aktivitas sandblasting yang dilakukan PT Saipem Indonesia Karimun Branch (SIKB). Pasalnya dampak aktivitas sandblasting tersebut sangat mencemari lingkungan dan tidak peduli dengan keadaan masyarakat sekitar.
Selain itu, kegiatan pembersihan plat besi dengan menggunakan sistem sandblasting, atau proses penyemprotan abrasive dengan material pasir yang mengandung silica itu, acapkali menimbulkan debu tebal yang mengotori pemukiman warga di sekitar lokasi.
Sahar Jemahat, Ketua Forum Peduli Kesejahteraan Lingkungan (FPKL) mengaku kesal dengan sikap pihak PT Saipem Indonesia Karimun Branch yang terkesan tak peduli dengan lingkungan sekitarnya.
“Kondisi ini sebenarnya sudah sering terjadi. Namun meski sudah diberitahu, pihak perusahaan selalu menganggap remeh dengan tidak menggubris keluhan warga,” ujarnya, Selasa (6/9/2022).

Menurut Sahar, PT SIKB pernah menyatakan tidak ada dampak yang berbahaya dengan pekerjaan yang mereka lakukan. Sebab, semua aktivitas sudah diketahui Dinas Lingkungan Hidup Pemerintah Kabupaten Karimun.
“Yang lebih mengejutkan lagi pihak Saipem pernah mengatakan bahwa debu sandblasting tidak berbahaya berdasarkan petunjuk Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Karimun,” bebernya.
Muslim, salah seorang warga yang juga bendahara FPKL mengatakan bahwa debu aktivitas sandblasting PT SIKB sangat merugikan warga terutama menyangkut soal kebersihan dan kesehatan.
“Setiap sandblasting dilakukan rumah warga dan semua perabotan yang ada di dalamnya selalu dipenuhi debu. Apalagi jika aktivitas dilakukan di malam hari, jelas warga kesulitan tidur dan sesak nafas,” ujar Muslim kesal.
Sulaiman, Ketua RW 01 Pangke, membenarkan apa yang disampaikan warga terkait debu aktivitas sandblasting yang dilakukan PT SIKB mencemari lingkungan dan pemukiman masyarakat Pangke, khususnya RT 01/RW 04 dan RT 02/RW 03.
“Debu yang ditimbulkan oleh aktivitas sandblasting PT.Saipem meresahkan dan membuat marah masyarakat, karena setiap kali beraktivitas, warga disibukkan dengan aktivitas bersih-bersih rumah serta menghirup debu berbahaya,” ungkapnya.

Sulaiman juga mendesak agar aktivitas tersebut segera dihentikan agar masyarakat terbebas dari bahaya.
“Kita minta aktivitas sandblasting yang dilakukan PT Saipem dihentikan agar tidak membahayakan masyarakat,” ucapnya kesal.
Warga melalui Forum Peduli Kesejahteraan Lingkungan (FPKL) yang dipimpin Sahar Jemahat, mendesak pihak PT SIKB agar segera melakukan dialog kembali untuk menyelesaikan masalah yang terjadi. Pihaknya juga meminta agar dipertemukan dengan orang yang bisa memberikan keputusan yang jelas, bukan Diko Getty Tuerah, yang menjabat Sustainability Facilitator at PT Saipem Indonesia Karimun Branch, yang hanya bisa omong kosong dan memberikan janji-janji palsu.
Sementara Diko Getty Tuerah saat dihubungi berkali-kali via telpon untuk dimintai keterangan terkait persoalan tersebut, tidak pernah bisa tersambung. Demikian juga melalui aplikasi pesan Whatsapp, statusnya hanya dilihat saja. (Fajar)
Editor: Andri Sofian
#ptsaipem #sandblasting #polusiudara







