TERDEPAN.CO.ID, BATAM | Aksi unjuk rasa lima ribuan massa di Batam, Kepulauan Riau (Kepri), berlangsung rusuh, Senin (11/9/2023). Aksi tersebut merupakan aksi kedua yang dilakukan di bundaran depan kantor Badan Pengusahaan (BP) Batam oleh massa yang menolak adanya relokasi warga di kawasan Pulau Rempang, Kecamatan Galang, Kota Batam. Dalam unjuk rasa itu, massa melempari Kantor BP Batam dengan batu, botol, kayu, serta membobol pagar dan merusak beberapa fasilitas lainnya.
Awalnya aksi yang dimulai pada pagi sekitar pukul 09.00 WIB itu berlangsung damai. Beberapa koordinator aksi melakukan orasi menolak relokasi 16 Kampung Tua di Pulau Rempang dan Galang akibat adanya Proyek Stategis Nasional Rempang Eco-City. Diketahui, massa merupakan gabungan masyarakat Melayu yang berasal dari Kalimantan Barat, Jambi, Jakarta, Sumatera Utara, Riau dan pulau-pulau yang ada di sekitar Kepri.
“Kami tidak menolak pembangunan itu, kami menolak relokasi 16 titik kampung tua. Ini marwah Melayu, kami punya kampung tempat kami dilahirkan, tempat ditanamnya tembuni kami, kami punya kenangan di kampung kami ini,” ujar salah satu koirdinator aksi, Muhammad Said, dalam orasinya.
Selain itu, massa juga mengecam tindakan represif aparat keamanan yang telah melakukan kekerasan dan menahan beberapa warga Rempang saat terjadi bentrok pada aksi blokade jalan di Jembatan 4 Barelang beberapa waktu lalu.
“Kami minta teman-teman kami yang ditahan oleh aparat untuk dibebaskan,” teriak salah seorang orator.
Sekitar pukul 11.40 WIB, barulah Kepala BP Batam, Muhammad Rudi, mendatangi massa pengunjuk rasa. Di tengah massa yang tampak mulai panas akibat lambatnya kehadiran Rudi, ia tampak berusaha memberikan penjelasan dan mengajak perwakilan pengunjuk rasa untuk berdiskusi untuk mencari solusi atas persoalan Rempang.
“Kita tidak punya wewenang melebihi wewenang daripada pemerintah pusat. Yang kedua, sebaiknya kita bisa dudukkan kembali. Perwakilan Bapak/Ibu kalau bisa kita duduk lagi,” ucapnya.
Namun, merasa kurang puas akhirnya massa mulai menunjukkan kemarahannya. Sekitar pukul 12.00 WIB, massa mulai rusuh dan melempari kantor BP batam hingga rusak. Sebagian kaca kantor BP Batam pun hancur. Massa juga membobol pagar serta merisak fasilitas di jalan. Melihat aksi massa yang mulai beringas itu, aparat kepolisian dan petugas Direktorat Pengamanan (Ditpam) BP Batam segera mengambil tindakan pengamanan. Petugas pun menembakan gas air mata dan tembakan air ke arah kerumunan massa.
Menghadapi itu, massa terlihat meneriaki Aparat dan tim pengamanan terpadu untuk mundur. Bahkan tampak massa semakin brutal melempari petugas dengan batu dan merusak gedung BP Batam. Beberapa perkantoran lainnya pun ikut rusak terkena imbas amukan massa. Pada kejadian itu, seorang aparat kepolisian menjadi korban dengan mengalami luka serius di bagian kepala.
Sekitar satu jam kemudian, barulah kerusuhan mulai reda. Dengan berbagai upaya akhirnya petugas berhasil meredakan emosi massa. Tak lama kemudian massa pun berangsur membubarkan diri. (AS)
Editor: Andri Sofian
#UnjukRasaWargaRempang #PulauRempang







