TERDEPAN.CO.ID,TRENGGALEK– Mengenal sosok kepahlawan Ki Ageng Minak Sopal sebagai pahlawan pertanian yang hingga kini melekat dalam mitos dan sejarah yang melegenda dengan Gajah Putihnya sebagai Tumbal pembuatan waduk atau Dam sebagai sumber mata air yang telah mengairi pertanian di Kota Trenggalek dan sekitarnya. Ki Ageng Minak Sopal dan Ibunya Roro Amiswati dimakamkan di Bagong ngantru Kota Trenggalek dan disamping-sampingnya merupakan makam benderek atau orang-orang yang menyertai. Ketika Ki Ageng Minaksopal membangun sarana pertanian di wilayah Kota Trenggalek pada saat itu.
Dan di luar tembok makam ini juga ada beberapa makam tua yang makam tersebut sudah sulit untuk dikenali identitasnya namun kalau dilihat dari ciri nisanya diduga kuat bahwa makam tersebut merupakan makam pada era-era abad ke 19. Dan untuk Ki Ageng Minak Sopal sendiri diperkirakan hidup pada akhir kerajaan Demak dan awal kerajaan Majapahit yakni antara awal kerajaan 16 M.
Kadispar Kabupaten Trenggalek, Agus Pramono dalam mengatakan, Ki Ageng Minak Sopal menurut beberapa sumber merupakan utusan dari Adipati Ponorogo yaitu Batoro Katong untuk membangun sarana pertanian di Kabupaten Trenggalek. Yang saat itu sedang susah mengalami kekeringan. Sedangkan asal-usulnya sendiri bahwa Ki Ageng Minak Sopal dari beberapa sumber merupakan seseorang yang berasal dari Demak.
“Menurut Desertasi dari Profesor Dr.Orkohem dan fersi lain mengatakan bahwa Ki Ageng Minak Sopal merupakan utusan dari Sunan Kalijogo yang di tugaskan untuk menghadap Batoro Katong untuk mengerjakan di weker Wetan atau wilayah Trenggalek,”terangnya.
Ia menyampaikan, pada saat itu kebetulan di wilayah wengker wetan Treggali atau Trenggalek sedang mengalami kekeringan . Nah Ki Ageng Minak Sopal diutus oleh Batoro Katong untuk mengentaskan kekeringan tersebut dan kemudian dengan idenya dibuatlah bendungan di Kali Bagong. Dari Bendungan tersebut air bisa mengalir mengairi sawah sawah di sekitar bumi Trenggalek atau wengker wetan.
“Dalam mitosnya pembangunan bendungan Dam Bagong berkali kali mengalami kegagalan dari ilham yang diterima oleh Ki Ageng Minak Sopal maka untuk keberhasilan pembangunan Dam tersebut atau bendungan tersebut harus disertai dengan tumbal Kepala Gajah Putih,”lanjutnya.
Menurutnya, konon menurut cerita satu-satunya yang memiliki Gajah Putih adalah Mbok Roro Krandon yang berasal dari desa Krandon kira-kira sepuluh kilometer diarah barat daya bendungan Bagong.
“Kemudian Ki Ageng Minak Sopal serta merta meminjam Gajah Putih dan akhirnya tanpa sepengetahuan Mbok Rondo Krandon, Gajah Putih di sembelih dan kemudian kepalanya dilarung di bendungan yang baru di bangun tersebut,”tuturnya.
Lanjutnya, oleh karena itu dengan adanya ritual tersebut Dam bisa terbangun kembali. Untuk selanjutnya dalam mengenal perjuangan Ki Ageng Minak Sopal, masyarakat di sekitar Trenggalek dan khususnya para petani untuk mengenang jasa Minak Sopal kemudian mengadakan upacara adat Labuh atau Larung Kepala Kerbau Bule yang di ejawantahkan dari penggantian Kepala Gajah Putih dan upacara adat tersebut masih lestari hingga sekarang dan merupakan satu ritual kewajiban tahunan setiap penanggalan bulan selo tahun Jawa.
“Seiring berjalannya waktu diadakan perbaikan-perbaikan pada masa periodesasinya. Terakhir Belanda membangun satu bendungan yang dilengkapi dengan peralatan modern pada sekitar tahun 30-an,”bebernya.
Agus menegaskan, untuk menguatkan dan meyakinkan masyarakat bahwa ini adalah bangunan Belanda maka ini oleh Belanda di viralkan lagi ketokohan Minak Sopal sebagai Pahlawan Pertanian di wilayah Kota Trenggalek.
“Dengan demikian masyarakat Kota Trenggalek semakin mempercai dan mantab untuk mempergunakan saluran irigasi dan Bendungan ini semata-mata untuk mengenang peninggalan Belanda tetapi adalah peninggalan leluhur mereka yaitu Ki Ageng Minak Sopal,”jabarnya.
“Jadi pada saat ini situs bersejarah Ki Ageng Minak Sopal lebih sebagai penanda bahwa diwilah Kabupaten Trenggalek sejak sekitar abad 16 atau pada akhir masa kerajaan Demak sudah terdapat satu pemukiman yang pada saat itu tokoh utamanya yaitu Ki Ageng Minak Sopal sebagai tokoh pertanian ditempat ini,”sambungnya.
Terus Agus Purnomo, kemudian ketika runut sejarah jejak-jejak Ki Ageng Minak Sopal selain yang ada di Trenggalek kalau kita lihat dalam babat Pacitan dan ini jejak-jejaknya ada di Kabupaten Pacitan yaitu Putra Ki Ageng Minak Sopal yang juga bergelar Ki Ageng Minak Sopal II makamnya ada di Kabupaten Pacitan satu lokasi dengan makam mertuanya yaitu Ki Ageng Puring sedangkan keturunan Ki Ageng Minak Sopal yang ada di pacitan sudah tersebar diantaranya berada di wilayah Kecamatan Panggul yang dulunya juga wilayah Kabupaten Pacitan namun sejah tahun 1952 wilayah kawedanan Panggul itu masuk dalam wilayah Kabupaten Trenggalek.
Agus menyampaikan, nisan Ki Ageng Minak Sopal dan Demi Amiswati tidak lagi utuh karena adanya tangan jahil yang mencurinya. Entahlah apa maksud pencurian ini. Namun pada beberapa waktu yang lalu dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Trenggalek sudah melakukan upaya-upaya sesuai aturan, diantaranya sudah melaporkan kepada pihak terkait yakni kepolisian dan Balai Pelestarian Cagar Budaya Jatim di Mojokerto dan sudah diadakan peninjauan di BPJB Mojokerto.
“Sebagai tanda penghormatan akan sejarah Ki Ageng Menak Sopal sebagai pahlawan pertanian di kota Trenggalek disetiap penanggalan Selo bulan Jawa pada pagi hari Jumat Kliwon, dilakukan upacara adat bersih Dam Bagong atau Larung Kepala Kerbau,”urainya.
Lanjutnya kembali, harapan Kami marilah kita jangan terabit dari akr sejarah dengan memperhatikan sejarah masa lampu dan mengokohkan jatidiri sebagai pijakan masa depan untuk generasi anak muda untuk tidak melupakan sejarah masa lalu,”pungkanya.
Diketahui situs sejarah Ki Ageng Minak Sopal sampai saat ini masih terjaga kelestariannya dan eksistensinya sebagai peninggalan sejarah yang sangat penting di Kabupaten Trenggalek. Dan di makam Ki Ageng Minak Sopal juga dijadikan kajian sejarah, kajian-kajian tradisi akan kisah kepahlawan Ki Ageng Minak Sopal yang telah berjasa pada pembangunan Kota Trenggalek hingga kini yang tidak hanya berdampak pada sektor pertanian namun juga pada industry UMKM, Pariwisata, peternakan dan pariwisata.
Reporter : Bagus Alfianto Rajib
Editor : IKA
#KiagengMenakSopal







