Batam Disiapkan Jadi Pusat Bunkering Amonia, Pupuk Indonesia Bidik Pasar Bahan Bakar Kapal Dunia

Deputi Investasi BP Batam, Fary Djemy Francis dan Direktur Utama PT Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi saat konpress di kantor BP Batam

TERDEPAN.CO.ID,BATAM- Batam berpeluang mengambil peran strategis dalam industri bahan bakar kapal dunia melalui rencana pengembangan industri amonia. Potensi tersebut didukung posisi geografis Batam di jalur pelayaran internasional Selat Malaka serta kapasitas produksi amonia Indonesia yang mencapai sekitar 7 juta ton per tahun.

Rencana pengembangan industri tersebut mendapat sambutan positif dari BP Batam. Deputi Investasi BP Batam, Fary Djemy Francis, mengatakan pihaknya mulai menyiapkan sejumlah aspek pendukung, terutama terkait kebutuhan lahan untuk pembangunan pabrik amonia.

Bacaan Lainnya

Menurut Fary, kebutuhan lahan menjadi salah satu pembahasan penting dalam pertemuan dengan PT Pupuk Indonesia. BP Batam akan mengidentifikasi sejumlah alternatif lokasi, baik di kawasan industri maupun kawasan lainnya yang memungkinkan untuk pengembangan proyek tersebut.

“Dari sisi BP Batam, kami akan mempresentasikan beberapa hal. Yang pertama tentu kebutuhan terhadap alokasi lahan menjadi poin penting yang perlu kita persiapkan. Tadi sudah ada beberapa informasi yang akan kita tindak lanjuti, baik di kawasan industri maupun kawasan lainnya,” kata Fary.

Ia menegaskan, BP Batam mendukung rencana investasi tersebut karena sejalan dengan arah pengembangan Batam sebagai pusat pertumbuhan ekonomi berbasis investasi.

Selain itu, pengembangan industri amonia dinilai berkaitan erat dengan upaya membangun ekosistem maritim di Batam, termasuk menyiapkan infrastruktur untuk kebutuhan bahan bakar kapal masa depan.

Menurut Fary, posisi Batam yang berada di jalur pelayaran internasional Selat Malaka merupakan keunggulan strategis yang harus dimanfaatkan untuk menarik investasi dan memperkuat aktivitas ekonomi maritim.

“Ini bagian dari arahan Presiden Prabowo agar Batam menjadi besar. Tumpuan ekonomi kita melalui investasi, salah satunya bagaimana memanfaatkan potensi Selat Malaka,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Utama PT Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, mengatakan peluang pengembangan industri amonia untuk kebutuhan bahan bakar kapal dunia harus dimanfaatkan Indonesia.

Terlebih, Indonesia memiliki kapasitas produksi amonia sekitar 7 juta ton per tahun. Kapasitas tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu produsen amonia terbesar di kawasan yang membentang dari Afrika Utara, Timur Tengah hingga Asia Pasifik.

Rahmad menilai perubahan standar bahan bakar kapal dunia membuka peluang besar bagi Indonesia untuk tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah, tetapi juga mengembangkan industri pengolahan dan distribusi di dalam negeri.

Ia mencontohkan Singapura yang selama lebih dari 50 tahun berhasil membangun ekosistem maritim hingga menjadi salah satu pusat layanan pengisian bahan bakar kapal atau bunkering terkemuka di dunia.

Pada era 1960-an, Singapura mulai membangun kilang minyak dengan memanfaatkan pasokan minyak mentah dari Indonesia. Seiring waktu, negara tersebut berkembang menjadi pusat layanan bahan bakar kapal internasional.

Kini, Singapura kembali mempersiapkan infrastruktur pengisian bahan bakar amonia untuk mengantisipasi perubahan kebutuhan industri pelayaran global.

“Ke depan, sesuai dengan peta jalan International Maritime Organization (IMO), bahan bakar kapal atau marine fuel oil akan berubah menuju bahan bakar yang tidak menghasilkan emisi karbon. Salah satu yang diproyeksikan adalah amonia,” kata Rahmad.

Dia menyebut sejumlah negara di kawasan Asia Pasifik, seperti Australia, Korea Selatan, dan Singapura, mulai membangun fasilitas pelabuhan yang dapat melayani pengisian bahan bakar amonia.

Kondisi tersebut justru menjadi peluang bagi Indonesia. Sebab, negara-negara tersebut tengah menyiapkan infrastruktur, sementara Indonesia memiliki kapasitas produksi amonia yang dapat menjadi sumber pasokan.

“Singapura sekarang membangun fasilitas bunkering amonia, tetapi amonianya harus diimpor. Indonesia memiliki kemampuan untuk memasok kebutuhan tersebut. Karena itu, kita harus menangkap peluang ini dengan membangun industrinya di dalam negeri,” ujarnya.

Rahmad menegaskan, pengembangan industri amonia di Batam bukan sekadar upaya mengoptimalkan sumber daya alam, melainkan bagian dari strategi industrialisasi untuk menciptakan nilai tambah ekonomi di dalam negeri.

Pupuk Indonesia juga membuka peluang kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk investor internasional, selama pengembangan industri tersebut memberikan manfaat bagi perekonomian nasional.

“Ini bukan resource nationalism, tetapi resource industrialization. Kita ingin nilai tambahnya berada di dalam negeri. Ekonomi Indonesia tetap terbuka dan kami membuka peluang bekerja sama dengan siapa saja,” tegasnya.

Dengan dukungan kapasitas produksi amonia nasional, posisi strategis Selat Malaka, serta pengembangan infrastruktur maritim, Batam berpotensi menjadi salah satu simpul penting dalam rantai pasok bahan bakar kapal rendah karbon di kawasan Asia Pasifik.(*)

TERDEPAN TV

Pos terkait