TERDEPAN.CO.ID,BATAM- Kepala Sekolah SMK5 Batu aji Batam, Agus Syahrir memberikan klarifikasi atas curhatan salah satu wali-murid siswanya yang diminta menandatangani pembayaran iuran SPP selama 2 bulan berturut turut yang sudah tayang di media. Senin (16/08/21).
Dalam keterangannya menyampaikan, bahwa Surat Perjanjian (SP) pembayaran tunggakan SPP siswa tersebut merupakan Surat Operasional Prosedur (SOP) yang menjadi surat teguran atau pemberitahuan kepada orang tua siswa (wali murid) bahwa sudah jatuh tempo membayar.
“Nah dengan adanya SP itu maksimum akan dilayangkan tiga kali, tapi kalau sudah tiga kali atau SP3 orang tua tidak mampu juga membayar, maka sekolah sudah mengetahui, bahwa orang tuanya masuk kategori orang tua tidak mampu yang biaya pendidikannya butuh bantuan,”terangnya, Sabtu (14/08/21) saat dijumpai dikantornya.
Menurutnya teguran berupa surat kepada orang tua hingga SP3 ini dimaksudkan sebagai rujukan untuk membantu meringankan biaya pembayaran hingga 0 persen.
“Yang pertama apabila sudah SP3 orang tua tidak mampu maka sekolah akan membantu pengurangan biaya SPP dari 25persen, 50persen, 75 persen hingga 0 persen, “terangnya.
Agus menegaskan, untuk mengurangi beban orang tua yang tidak mampu, pihak sekolah juga menawarkan kepada orang tua wali murid agar anaknya mendapatkan kerja sampingan selepas sekolah.
“Untuk anaknya biasanya kita tawarkan dengan kerja di PLH, itu juga kita berikan uang saku atau uang transport sekitar Rp25.000. Tugasnya di PLH yaitu membantu membersihkan lingkungan sekolah kemudian menanam pohon atau bunga bunga merawat lingkungan sekolah,”tuturnya.
Menurutnya, anak didiknya selain belajar disekolah juga mendapatkan pelatihan agar mandiri.
“Jadinya intinya anak itu tidak boleh hanya belajar saja, namun juga diajarkan tahapan hidup seperti bersih-bersih, mengenal lingkungan dan itu merupakan bagian anak untuk sebagai kebiasaan yang baik. Nah seperti ini setiap tahun selalu ada kejadian yang sama dan guru kita jumlahnya juga banyak namun kalau sampai mengadu ke media itu juga belum pernah, “lanjutnya.
Dirinya juga menyadari adanya orangtua yang kurang terbuka dan membuka diri terhadap permasalahan siswanya kepada wali kelas yang ada, sehingga harus menyampaikan keluhan kepada pihak lain (media).
“Biasanya walikelas itu tau masalah orang tua dan semua managemen sekolah. Selalu action dan dan selalu kita tindaklanjuti dengan home fisik yakni melakukan kunjungan konseling oleh walikelas. Setelah home fisik itu, nanti akan tau kondisi keadaan orangtua, bantuan apa yang akan diberikan pihak sekolah kepada siswa tersebut,”tambahnya.
Agus berharap, kejadian serupa tidak terulang lagi dan masing-masing pihak ada keterbukaan sehingga proses belajar mengajar bisa berjalan dengan lancar.
“Kita berharap dengan penjelasan ini kedepanya tidak akan terjadi lagi,”ulasnya.
Agus yang juga sebagai Kepala Sekolah SMKN5 dan pernah menjadi TKI di Taiwan ini mengajak para orang tua murid untuk menyekolahkan anaknya belajar di SMK5 karena prospek untuk diterima bekerja usai tamat belajar lebih tinggi dibanding sekolah umum.
“Kepada orang tua murid sebaiknya sekolah di SMK saja, khusunya di SMK5, alasannya yang pertama kondisi sekolah, sarana prasarana, guru dan kompetensi, karena SMK itu menyiapkan dalam tiga hal yang pasti didapatkan oleh anak, yakni tamat SMK itu pasti bekerja dan itu bergaransi.
“Sekolah SMK itu bergaransi, bisa bekerja dan apabila melanjutkan sekolah setelah bekerja dan punya uang, anak-anak bisa melanjutkannya dan akhirnya suatu saat bisa menjadi seorang wirausaha,”tutupnya.
Diketahui sebelumnya, Rifai Hidayat ayah dari TH mengeluh telah dipaksa untuk tandatangan tunggakan iuran SPP selama dua bulan yang tak terbayarkan karena kondisi ekonomi yang menurun disaat pandemi dan PPKM level 4 dan 3 ke media, yang kini langsung ditanggapi pihak sekolah dengan memberikan keringan pembayaran serta bantuan pekerjaan tambahan usai pulang sekolah.
Redaksi
SMK5Batam







