TERDEPAN.CO.ID,BATAM– Menjulang tinggi dengan arsitektur megah dan cantik di tengah perkotaan dan dikelilingi perkantoran, Masjid Agung Raja Hamidah (sebelumnya dikenal sebagai Masjid Raya Batam / Masjid Agung Batam Centre) masih menjadi tempat ibadah favorit bagi umat muslim.
Selain keindahan arsitektur dan kenyaman serta kemegahannya, Masjid Agung memiliki history sejarah religi yang cukup menjadi kebanggaan masyarakat di Kota Batam.
“Karena kerja di di sini jadi kalau masuk waktunya sholat saya lebih memilih ke sini walaupun di tempat lain ada, ngerasa lebih nyaman dan senang aja,”kata Jemaah yang lagi sholat Jumat, (06/11/26) sambil bergegas mendengar suara khotbah yang berkumandang.
Masjid Agung Batam berada di Jl. Engku Putri, Tlk. Tering, Kecamatan Batam Center, Kota Batam, Kepulauan Riau 29444 (berada tepat di sebelah ikon “Welcome to Batam”). Berdiri di Komplek MRB di atas lahan seluas 75.000 meter persegi dengan daya tampung ±3.500 jamaah di dalam, hingga ±14.000–15.000 orang jika area luar digunakan.

Berdirinya Masjid Agung Batam dimulai pada awal pembangunan pada tahun (1999–2001).
Awal pembangunan Masjid ini dirancang oleh arsitek tersohor di Indonesia, Ir. Achmad Noe’man (dari PT Birano) yang juga merancang Masjid Salman ITB. Desainnya disetujui pada 31 Agustus 1997. Mulai dibangun pada tahun 1999 dan rampung pada tahun 2001.
Dikenal unik karena memiliki atap berbentuk limas segi empat atau piramida, yang menjadi ciri khas dan simbol budaya Melayu. Masjid ini juga dilengkapi menara setinggi 66 meter. Seiringnya wakti arsitektur Masjid ini mengalami Revitalisasi Besar-Besaran pada tahun (2022–2024).
Sehingga pada tahun 2018, nama Masjid Raya Batam disesuaikan dengan aturan penamaan masjid nasional dan diubah menjadi Masjid Agung Batam.
Dimulai pada Juli 2022 Masjid Agung mengalami renovasi besar-besaran di bawah kepemimpinan Walikota Muhammad Rudi dan dikerjakan oleh PT Adhi Karya.
Perubahan tersebut cukup signifikan dengan model arsitektur sebelumnya. Konsep arsitekturnya diubah bernuansa biru-putih dengan halaman tengah yang luas, fasilitas modern, serta area parkir di basement, mirip dengan Masjid Agung Sultan Mahmud Riayat Syah di Batu Aji.
Adapun luas bangunan juga ikut meningkat menjadi sekitar 8.000–33.392 meter persegi (keseluruhan kawasan), dengan kapasitas tampung mencapai 6.000–10.000 jamaah di dalam bangunan utama, dan lebih dari 20.000 jamaah jika menggunakan area plaza.
Dalam peresmian tersebut, namanya dilengkapi dan diubah menjadi Masjid Agung Raja Hamidah Kota Batam.
Diketahui asal-usul nama “Raja Hamidah” diambil untuk menghormati Raja Hamidah binti Raja Haji Fisabilillah (dikenal luas sebagai Engku Putri), permaisuri Sultan Mahmud Riayat Syah sekaligus pahlawan dan tokoh penting perempuan Melayu yang menjaga kedaulatan Kesultanan Riau-Lingga.
Kini Masjid kebanggan masyarakat Kota Batam terus dibanjiri umat muslim untuk beribadah walaupun belum sempurna masih banyak renovasi yang belum terselesaikan. Namun keindahan dan kemegahannya berdiri di tengah kota seolah mengajak siapapun untuk datang beribadah menjalankan sholat dengan penuh kebahagiaan dan kekhusukan.
RED #MasjidAgungBatam #MasjidAgungRajaHamidah






